Apakah E-Money Sebagai Bentuk Riba?

Photo of author


Istilah uang elektronik (e-money) dan dompet elektronik (e-wallet) menjadi booming akhir-akhir ini ketika dunia bergerak menuju gaya hidup nirtunai atau tanpa tunai (cashless).

Baik e-money maupun e-wallet memiliki kesamaan. Keduanya merupakan sistem pembayaran digital. Namun demikian, e-money berbeda dengan e-wallet dalam cara menyimpan data pengguna.

E-money adalah sistem pembayaran berbasis chip di mana semua data disimpan dalam sebuah chip dan mengambil bentuk kartu.

Biasanya disediakan oleh bank, seperti Tap Cash yang dikeluarkan oleh Bank Negara Indonesia (BNI), Flazz oleh Bank Central Asia (BCA), E-money oleh Bank Mandiri, Brizzi oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Di sisi lain, e-wallet adalah sistem pembayaran berbasis server seperti T-Cash, Go-Pay, OVO. Namun, pada dasarnya, e-wallet juga merupakan bentuk e-money.

Jadi, untuk menghindari kebingungan, terminologi e-money digunakan juga untuk menyebut e-wallet dalam artikel ini.

Tren penggunaan uang elektronik untuk pembayaran di Indonesia meningkat setiap tahun. Dari survei yang dilakukan oleh DailySocial (2017), ditemukan pada tahun 2017 bahwa sekitar 56,8 persen konsumen Indonesia telah menggunakan uang elektronik dalam waktu kurang dari setahun, 34,4 persen antara satu hingga tiga tahun, sedangkan sisanya telah menggunakannya lebih dari tiga. tahun.

Bank Indonesia melaporkan bahwa pada akhir kuartal keempat, 2017, transaksi e-money mencapai sekitar Rp 12 triliun (sekitar US $ 854,70 juta). Jumlah tersebut meningkat 26,2 persen menjadi sekitar Rp 47 triliun pada akhir 2018.

Jumlah ini terus meningkat dan diperkirakan akan tumbuh lebih lanjut pada 2019 karena bank-bank lain juga berencana untuk menawarkan uang elektronik sendiri kepada pelanggan mereka.


Share

Artikel Terkait

Trending di Informasi Lain

Terbaru

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.