Apa Itu Bank Run (Rush Money)?

Apa itu Bank Run?

Bank run atau rush money terjadi ketika sejumlah besar nasabah bank atau lembaga keuangan lainnya menarik simpanannya secara simultan karena kekhawatiran solvabilitas bank .

Karena semakin banyak orang menarik uang mereka, kemungkinan bank gagal bayar meningkat, akhirnya mendorong lebih banyak orang untuk menarik deposit mereka. Dalam kasus ekstrem, cadangan bank mungkin tidak cukup untuk menutup semua permintaan penarikan uang.

Memahami Bank Run

Bank run terjadi ketika sejumlah besar orang mulai melakukan penarikan uang dari bank karena mereka khawatir bank akan kehabisan uang. Bank run biasanya merupakan hasil dari kepanikan daripada kepailitan sebenarnya.

Sebuah bank run dipicu oleh rasa takut yang berpotensi mendorong bank kedalam jurang kebangkrutan.

Bank melakukan resiko default, dikarenakan hampir setiap individu yang menyimpan uang melakukan penarikan. Jadi apa yang dimulai dengan panik pada akhirnya bisa berubah menjadi situasi default yang sebenarnya, yakni kebangkrutan.

Itu karena kebanyakan bank tidak menyimpan banyak uang tunai di cabang mereka. Bahkan, sebagian besar institusi memiliki batas yang ditentukan untuk berapa banyak mereka dapat menyimpan di brankas mereka setiap hari.

Batas ini ditetapkan berdasarkan kebutuhan dan untuk alasan keamanan. Bank Indonesia juga menetapkan batasan uang tunai untuk institusi. Uang yang mereka miliki di pembukuan digunakan untuk meminjamkan kepada orang lain atau diinvestasikan dalam jalur investasi yang berbeda.

Karena bank biasanya menyimpan hanya sebagian kecil dari simpanan sebagai uang tunai, mereka harus meningkatkan posisi kas mereka untuk memenuhi permintaan penarikan nasabah mereka yang datang secara bersamaan.

Salah satu metode yang digunakan bank untuk meningkatkan kas adalah menjual asetnya — terkadang dengan harga yang jauh lebih rendah agar dapat menjualnya dengan cepat untuk memenuhi permintaan penarikan uang.

Kerugian atas penjualan aset dengan harga lebih rendah dapat menyebabkan bank menjadi bangkrut. Kepanikan bank terjadi ketika banyak bank bertahan pada saat yang bersamaan.

Penjelasan kunci

  1. Bank run terjadi ketika sekelompok besar nasabah menarik uang mereka dari bank secara bersamaan berdasarkan kekhawatiran bahwa lembaga tersebut akan bangkrut.
  2. Dengan semakin banyak orang menarik uang, bank akan menggunakan cadangan uang tunai mereka dan akhirnya gagal bayar.
  3. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) didirikan pada tahun 2004 sebagai tanggapan atas bank run.

Mencegah Bank Run

Menanggapi gejolak krisis moneter tahun 1998-an, pemerintah mengambil beberapa langkah untuk mengurangi risiko bank runk di masa depan. Mungkin yang terbesar adalah menetapkan persyaratan cadangan, yang mengamanatkan bahwa bank mempertahankan persentase tertentu dari total simpanan sebagai uang tunai.

Selain itu, pemerintah mendirikan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada tahun 2004. Dibuat sebagai tanggapan atas banyak kegagalan bank yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, lembaga ini menjamin simpanan nasabah, baik itu simpanan yang bersifat syariah atau pun konvensional. Misinya adalah menjaga stabilitas dan kepercayaan publik terhadap sistem perbankan di tanah air.

Tetapi dalam beberapa kasus, bank perlu mengambil pendekatan yang lebih proaktif jika dihadapkan dengan ancaman bank run. Begini cara mereka melakukannya.

1. Tutup aktivitas. Bank dapat memilih untuk menutup aktivitas dalam jangka waktu tertentu jika mereka dihadapkan dengan ancaman bank run. Ini mencegah orang berbaris untuk menarik uang mereka. Franklin D. Roosevelt melakukan tindakan ini pada tahun 1933 setelah ia menjabat. Dia menyatakan hari libur bank, dan menyerukan inspeksi untuk memastikan solvabilitas bank sehingga mereka dapat terus beroperasi.

2. Pinjam. Bank dapat meminjam dari lembaga lain jika mereka tidak memiliki cadangan kas yang cukup. Pinjaman besar dapat menyelamatkan mereka dari kebangkrutan.

3. Mengasuransikan simpanan. Ketika orang tahu bahwa simpanan mereka diasuransikan oleh pemerintah, ketakutan mereka umumnya berkurang. Ini telah menjadi kasus sejak pemerintah mendirikan LPS.

Penjelasan: Bank-bank sentral biasanya bertindak sebagai jalan terakhir untuk memberikan pinjaman kepada masing-masing bank selama krisis seperti bank run.

Contoh Bank Runs

1. Karena mata uang

Currency mismatch saat korporasi melakukan pinjaman yang terjadi pada 1997-1998. Dimana saat itu korporasi meminjam dolar untuk proyek mereka dan keuntungannya dalam mata uang rupiah, namun saat rupiah anjlok, korporasi menjadi bangkrut.

Karena keuntungan dalam bentuk rupiah yang mereka dapatkan jauh dibawah biaya modal yang mereka keluarkan dalam bentuk dolar.

Akhirnya korporasi gagal bayar hutang kepada bank, karena mereka meminjam ke bank, dan otomatis perbankan juga bangkrut.

Kebangkrutan bank dikarenakan kegagalan atau tunggakan korporasi diikuti oleh serentetan bank run di seluruh negeri. Puncaknya adalah krisis moneter.

2. Karena rumor

Urusan bank run ini memiliki efek domino, apabila muncul isu tentang satu bank tertentu mengalami gagal bayar, cukup menjadi alasan munculnya ketakutan nasabah pada bank tersebut.

Ketakutan itulah yang memotivasi nasabah berbondong-bondong menarik seluruh uang mereka bersamaan. Sebagai contoh, satu kegagalan bank di Nashville Amerika menyebabkan sejumlah bank run di seluruh kawasan tenggara negeri paman sam itu.

Bank run juga dapat dipicu oleh rumor, contohnya Bank run selama Depresi Ekonomi terjadi karena rumor yang dimulai oleh seorang nasabah yang ingin menjual saham miliknya.

Pada Desember tahun 1930, seorang warga New York yang dinasehati oleh Bank di Amerika Serikat untuk tidak menjual saham tertentu kemudian ia memberitahu orang-orang bahwa bank tidak mau atau tidak mampu membeli sahamnya.

Perkataannya itu ditafsirkan publik sebagai tanda kebangkrutan, akhirnya para nasabah bank berbaris dalam jumlah ribuan dan, hanya dalam waktu beberapa jam saja, menarik lebih dari $ 2 juta dari bank itu.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.