Penjelasan Tentang Biaya Inventaris

Photo of author


Arti dari biaya inventaris

Inventaris berarti barang- baik itu produk jadi atau bahan mentah / bahan baku, untuk dijual, atau untuk digunakan sendiri oleh badan usaha pada suatu saat.

Inventaris terdiri dari tiga elemen – bahan baku yang akan digunakan untuk proses produksi, barang dalam proses atau barang tidak lengkap dalam proses produksi, dan akhirnya, produk jadi – baik untuk dijual atau dikonsumsi sendiri oleh badan usaha.

Inventaris adalah aset lancar untuk tubuh dan diasumsikan akan dikonversi menjadi uang untuk pendapatan perusahaan.

Dan penetapan biaya inventaris adalah proses menetapkan nilai moneter kepada inventaris di tangan entitas bisnis (perusahaan) pada setiap titik waktu.

Pentingnya biaya inventaris

Penetapan biaya inventaris yang tepat sangat penting untuk bisnis apa pun karena mempengaruhi HPP (Harga Pokok Penjualan) secara langsung.

Biaya, pada gilirannya, akan mempengaruhi laba kotor entitas dan, pada akhirnya, penghasilan kena pajaknya. Oleh karena itu, penetapan biaya inventaris sangat penting dan secara langsung akan mempengaruhi penyusunan semua laporan keuangan penting suatu entitas, yang dapat berupa laporan laba rugi dan Neraca.

Metode penetapan biaya inventaris yang berbeda dapat memberikan nilai inventaris yang berbeda di tangan. Jika suatu teknik memberikan nilai tinggi pada inventaris, harga pokok penjualan akan turun.

Laba kotor akan naik, dan karenanya, penghasilan kena pajak juga akan naik. Di sisi lain, jika suatu metode menetapkan nilai inventaris yang lebih rendah, harga pokok penjualan akan naik. Laba kotor akan turun, dan karenanya, penghasilan kena pajak juga akan turun.

Metode penetapan biaya inventaris

Ada empat metode penting untuk penetapan biaya inventaris.

Metode identifikasi khusus

Biaya setiap komponen inventaris dilacak secara eksplisit dalam metode ini. Harga pokok penjualan dan penutupan stok dihitung setelah itu.

Karena metode ini sangat rumit, metode ini hanya dapat digunakan dengan barang-barang besar seperti mobil atau barang-barang yang unik dan bernilai tinggi. Dalam kebanyakan kasus, sulit untuk membebankan biaya ke setiap komponen inventaris. Oleh karena itu, metode ini tidak disukai.

Metode First in First Out

Dalam metode ini asumsinya adalah barang yang pertama kali dibeli akan dikonsumsi terlebih dahulu. Metode ini adalah yang paling logis dan rasional dari semuanya.

Hal ini karena inventaris digunakan seperti ini hanya di sebagian besar organisasi. Ini juga berarti bahwa barang-barang yang tersisa dalam inventaris adalah barang-barang yang dibeli terbaru.

Stok penutup akan bernilai lebih tinggi pada saat harga naik. Artinya Harga Pokok Penjualan akan lebih rendah. Oleh karena itu, laba kotor akan lebih tinggi, dan demikian pula penghasilan kena pajak dengan metode ini.

Metode Last in First Out

Metode ini merupakan kebalikan dari FIFO. Asumsinya adalah bahwa barang-barang dalam inventaris yang terakhir dibeli entitas akan digunakan terlebih dahulu.

Dengan demikian, barang-barang dalam inventaris penutupan akan menjadi barang-barang yang dibeli di awal. Hal ini bertentangan dengan kebijakan umum mengkonsumsi barang. Oleh karena itu metode ini kurang disukai untuk perhitungan biaya inventaris.

Pada saat harga naik, item yang dibeli entitas dengan harga yang lebih tinggi nantinya akan digunakan terlebih dahulu. Artinya Harga Pokok Penjualan akan naik.


Share

Artikel Terkait

Trending di Akuntansi

Terbaru

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.