Apa Itu Return On Asset (ROA), Rumus Dan Contoh?

Apa Return On Asset (Pengembalian Aset — ROA)?

Return On Asset (ROA) adalah indikator berapa besar keuntungan (laba) yang suatu perusahaan dapat raih dengan mengekesploitasi total asetnya. ROA memberi manajer, investor, atau analis gagasan tentang seberapa efisien manajemen perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan pendapatan. Pengembalian aset ditampilkan sebagai persentase.

Penjelasan Kunci

  • Return on Assets (ROA) adalah indikator seberapa baik perusahaan menggunakan asetnya, dengan melihat seberapa besar laba yang dapat diraih perusahaan dengan memanfaatkan total asetnya.
  • ROA paling baik digunakan ketika membandingkan perusahaan serupa atau membandingkan perusahaan dengan kinerja sebelumnya.
  • ROA memperhitungkan hutang perusahaan, tidak seperti metrik lainnya, seperti Return on Equity (ROE).

Dasar-dasar Pengembalian Aset — ROA

Bisnis (setidaknya yang bertahan) pada akhirnya adalah urusan efisiensi: memeras sumber daya yang terbatas. Membandingkan laba dengan pendapatan adalah metrik operasional yang bermanfaat, tetapi langkah membandingkan laba dengan sumber daya yang digunakan perusahaan untuk menghasilkan laba bagi mereka sebagai kelayakan keberadaan perusahaan itu disebut ROA.

Return on Asset (ROA) adalah yang paling sederhana dari langkah-langkah korporasi seperti itu.

Rumus perhitungan ROA (Return On Asset)

ROA dihitung dengan membagi laba bersih perusahaan dengan total aset. Dalam rumus, ROA akan dinyatakan sebagai berikut:

Rumus ROA
KET: Net Income: Laba Bersih. Total Asset: ASET TOTAL.

ROA yang lebih tinggi menunjukkan lebih banyak efisiensi aset.

Contoh penerapaan Return On Asset (ROA)

Misalnya, Andi dan Yudi sama-sama memulai usaha kuliner. Andi menghabiskan Rp 16.000.000 untuk sewa tempat dan perkakas, sementara Yudi menghabiskan Rp 65.000.000 untuk tempat lebih besar dan perkakas lebih banyak, lengkap dengan seragam pegwai. Kita asumsikan saja bahwa itu adalah satu-satunya aset yang digunakan masing-masing.

Jika selama periode waktu tertentu Andi mendapatkan Rp 2.500.000 dan Yudi mendapatkan Rp 9.000.000, tampaknya Yuda akan memiliki bisnis yang lebih berharga namun dilain pihak Andi malah akan memiliki bisnis yang lebih efisien.

Jika menggunakan rumus ROA di atas, kita melihat ROA Andi jika disederhanakan adalah Rp 2.500.000 / Rp 16.000.000 = 15%, sedangkan ROA yang disederhanakan dari Yudi adalah Rp 9.000.000 / Rp 65.000.000 = 13%.

Signifikansi Pengembalian Aset / Return On Asset — ROA

Pengembalian aset (ROA), dalam istilah dasar, memberi tahu Anda penghasilan apa yang dihasilkan dari modal yang diinvestasikan (aset). ROA untuk perusahaan publik dapat sangat bervariasi dan akan sangat tergantung pada industri.

Inilah sebabnya mengapa ketika menggunakan ROA sebagai ukuran komparatif, yang terbaik adalah membandingkannya dengan angka ROA perusahaan sebelumnya atau terhadap ROA perusahaan sejenis.

Angka ROA memberi investor gagasan tentang seberapa efektif perusahaan dalam mengubah uang yang diinvestasikan menjadi laba bersih.

Semakin tinggi angka ROA, semakin baik, karena perusahaan menghasilkan lebih banyak uang dengan investasi lebih sedikit.

Ingat total aset juga merupakan jumlah total kewajiban (hutang) dan ekuitas pemegang saham. Kedua jenis pembiayaan ini digunakan untuk mendanai operasi perusahaan.

Karena aset perusahaan didanai oleh hutang atau ekuitas, beberapa analis dan investor mengabaikan biaya perolehan aset dengan menambahkan kembali beban bunga dalam formula untuk ROA. Dan hal ini menurunkan nilai si perusahaan.

Dengan kata lain, dampak mengambil lebih banyak utang dinegasikan dengan menambahkan kembali biaya pinjaman ke pendapatan bersih dan menggunakan aset rata-rata dalam periode tertentu sebagai penyebut. Beban bunga ditambahkan karena jumlah laba bersih pada laporan laba rugi tidak termasuk biaya bunga.

Return On Asset (ROA) vs Return On Equity (ROE)

Baik ROA maupun return on equity (ROE) adalah ukuran bagaimana perusahaan memanfaatkan sumber dayanya. Pada dasarnya, ROE hanya mengukur laba atas ekuitas perusahaan, mengacuhkan kewajiban.

Dengan demikian, ROA menyumbang utang perusahaan dan ROE tidak. Semakin besar leverage dan hutang perusahaan, ROE yang lebih tinggi akan relatif terhadap ROA.

Keterbatasan Return On Asset — ROA

Masalah terbesar dengan pengembalian aset (ROA) adalah tidak dapat digunakan di seluruh industri. Itu karena perusahaan dalam satu industri — seperti industri teknologi — dan industri lain seperti pengebor minyak akan memiliki basis aset yang berbeda .

Beberapa analis juga merasa bahwa formula ROA dasar terbatas dalam aplikasinya, karena paling cocok untuk bank. Neraca bank lebih baik merepresentasikan nilai riil dari aset dan liabilitas mereka karena nilai tersebut dicatat pada nilai pasar (melalui akuntansi mark-to-market ), atau setidaknya perkiraan nilai pasar, versus biaya historis. Baik beban bunga dan pendapatan bunga sudah diperhitungkan.

St Louis Federal Reserve menyediakan data tentang ROA bank AS, yang umumnya berada di sekitar atau tepat di atas 1% sejak 1984, tahun pengumpulan dimulai.

Untuk perusahaan non-keuangan, utang dan modal ekuitas dipisahkan secara ketat, seperti pengembalian untuk masing-masing: beban bunga adalah pengembalian bagi penyedia utang; laba bersih adalah pengembalian bagi investor ekuitas. Jadi rumus ROA yang umum membingungkan dengan membandingkan pengembalian kepada investor ekuitas (laba bersih) dengan aset yang didanai oleh investor utang dan ekuitas (total aset).

Dua variasi pada formula ROA ini memperbaiki inkonsistensi pembilang-penyebut dengan mengembalikan biaya bunga (setelah dikurangi pajak) ke dalam pembilang. Jadi rumusnya adalah:

Variasi ROA 1: Net Income + [Interest Expense*(1-tax rate)] / Total Assets.

Variasi ROA 2: Operating Income*(1-tax rate) / Total Assets.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di masa datang.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.