ROI vs ROE – Apa Perbedaannya, Tujuan & Mana Yang Terbaik?

Analis di seluruh dunia menggunakan rasio seperti Return on Equity (ROE) dan Return on Investment (ROI) untuk mengidentifikasi potensi investasi.

Meskipun kedua metrik tersebut menentukan kesehatan investasi, hasil keduanya mungkin tidak selalu mengarah ke arah yang sama.

Ada kemungkinan perusahaan memiliki ROE yang lebih tinggi tetapi ROI yang buruk, atau sebaliknya.

Jadi, untuk memahami metrik mana yang akan digunakan kapan, sangat penting untuk memahami perbedaan antara ROI vs ROE.

Mengenai Return On Equity (ROE)

ROE mewakili kinerja keuangan perusahaan, atau uang yang dihasilkan perusahaan berdasarkan total kepemilikan saham individu.

Rumus untuk menghitung ROE adalah:

Laba bersih dibagi dengan ekuitas pemegang saham

Dan rumus untuk menghitung ekuitas pemegang saham adalah:

Aset perusahaan – Hutang

Tujuan penghitungan ROE adalah untuk mengetahui seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan aset untuk memperoleh keuntungan. Laba bersih, dalam hal ini, adalah total pendapatan, setelah dikurangi beban dan pajak untuk suatu periode tertentu.

ROE bisa positif atau negatif, tetapi menjadi baik atau buruk tergantung pada standar industri. Jika sebuah perusahaan mengungguli rekan-rekan, maka kita dapat mengatakan bahwa perusahaan tersebut berkinerja lebih baik daripada yang lain.

Namun, sebagian besar investor mengambil S&P500 sebagai tolok ukur dan membandingkan pengembalian atau return investasi mereka dengan yang sama.

Mengenai Return On Investment (ROI)

ROI adalah rasio keuangan lain yang menghitung laba atas investasi. Rumus untuk menghitung ROI adalah Laba bersih / Biaya investasi

Atau Investasi Gain / Investasi Base. Rumus pertama paling sering digunakan untuk perhitungan ROI.

Kita juga dapat menghitung ROI untuk perusahaan dengan membagi EBIT (Earnings Before Interest and Tax) dengan Total Investasi.

ROI adalah rasio keuangan lurus ke depan. Ini membantu untuk mendapatkan pemahaman cepat tentang di mana entitas berdiri dari sudut pandang pengembalian.

Selain itu, rasio ini dipahami secara universal dan memberikan gambaran yang layak tentang investasi, serta membantu investor untuk memahami dan memutuskan tindakan selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ROI vs ROE – Tujuan

Pengembalian Ekuitas (ROE) Pengembalian Investasi (ROI)
Menghitung seberapa efektif manajemen menggunakan aset untuk menghasilkan profitabilitas. Membantu dalam memahami tingkat profitabilitas investasi.
Saat menghitung laba atas ekuitas, bagian utang tidak diperhitungkan. Hutang diperhitungkan saat menghitung laba atas Investasi.
Memberikan gambaran tentang manajemen dan keputusan keuangan yang baik. Berfokus sepenuhnya pada profitabilitas.

Dampak Beban Bunga

Jika investasi hanya melibatkan ekuitas dan tidak ada utang, atau ekuitas dan jumlah total investasi adalah sama, maka dalam kasus seperti itu, ROE dan ROI juga akan sama.

Ketika ada pinjaman atau hutang, maka ROE akan lebih tinggi daripada ketika tidak ada pinjaman jika keuntungan mungkin karena pinjaman melebihi biaya bunga pinjaman.

Misalnya, Anda dapat menginvestasikan Rp 50.000.000 untuk membuka restoran kecil yang dapat memberikan pengembalian Rp 10.000.000. Atau, Anda dapat menginvestasikan Rp 1.000.000 lebih banyak dengan meminjam untuk menambahkan take-away juga, yang akan meningkatkan keuntungan sebesar Rp 2.000.000 lebih.

Dalam hal ini, Anda harus meminjam uang hanya jika beban bunga pinjaman kurang dari keuntungan tambahan sebesar Rp 2.000.000. Jika keuntungan tambahan lebih banyak, ROE akan tumbuh.

ROI vs ROE – Mana yang Digunakan?

Baik ROE vs ROI adalah rasio profitabilitas dan merupakan cara cepat untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan atau investasi. Namun, keduanya digunakan untuk tujuan yang berbeda dan tidak dapat digunakan secara bergantian.

Selain itu, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misalnya, dalam ROE, ekuitas mengandung dana pinjaman dan dana yang diinvestasikan keduanya, jadi mungkin saja perusahaan mengalami hutang yang tinggi untuk tetap menguntungkan dalam jangka panjang.

Menurut Dun dan Bradstreet, sebuah perusahaan harus memiliki pendapatan dua kali lipat dari utang yang harus mereka bayar. Jika itu tidak terjadi, maka perusahaan mungkin dalam masalah.

Di sisi lain, ROI memberikan gambaran yang jelas tentang keuntungan yang diperoleh perusahaan sebelum mengambil utang. ROI yang positif akan menunjukkan bahwa perusahaan tersebut sehat secara finansial dan menggunakan pinjaman untuk ekspansi daripada membayar utang.

ROI, bagaimanapun, juga memiliki kekurangannya sendiri. Misalnya, saat menggunakan ROI, terkadang sulit untuk mengaitkan pendapatan dengan investasi tertentu.

Misalkan sebuah perusahaan yang mempekerjakan manajer pemasaran pihak ketiga tidak akan benar-benar dapat mengetahui jumlah pendapatan yang didapat dari usaha mereka.

Karena, baik ROI vs ROE tidak sempurna, disarankan agar perusahaan atau investor atau analis menggunakan keduanya untuk membuat keputusan yang bijaksana. Jika Anda menggunakan salah satunya, maka Anda dapat melupakan beberapa informasi penting. Bersama-sama, mereka dapat membuktikan indikator yang kuat dari profitabilitas investasi.

ADVERTISEMENT


Share
Trending di Investasi

Artikel Terkait

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.